One Day Off that you need
Kebiasaan buruk untuk tidak mencicil sesuatu yang berat memberikan dampak pada sebuah agenda bernama kontemplasi.
Rasa-rasanya sisa-sisa waktu dalam 24 jam tidak cukup untuk sekedar melakukan rutinitas kontemplasi atas satu hari yang telah dijalani.
Rasa-rasanya 24 jam dalam sehari terlalu banyak yang harus direnungkan hingga berujung “nggak jadi deh” karena bingung harus memulai darimana.
Rasa-rasanya sisa-sisa waktu dalam 24 jam terlalu sedikit untuk beristirahat bagi tubuh yang semakin hari semakin banting tulang dan pikiran yang masih belum ketemu pathwaynya karena yang terlihat hanya N terminal dan Karboksil terminal. Kontemplasi pun di nomor sekian-kan.
Sedikit demi sedikit menjadi bukit pun akhirnya benar-benar terjadi.
Saya ingin One Day Off, entah ingin atau butuh atau kombinasi keduanya. Saya ingin menyelesaikan dan mencari sekaligus membuka pilinan super ruwet dari pikiran saya, saya ingin menyusun ulang mimpi saya, saya ingin intensively curhat sama Pencipta saya, and do another things I can’t do in the last minute of every day.
Yang malam ini masih tetap memilih untuk tidur,
Opip

